Anda pernah melihat kotoran sapi? Bagaimana reaksi pertama kali ketika Anda melihat kotoran sapi yang becek, dan menggunung? Jijik, menutup hidup rapat-rapat, atau malah sekaligus menutup mata? Aih-aih, betapa menderitanya hidup Anda kalau begitu. Kali ini, akan saya ceritakan pengalaman bergaul dengan kotoran sapi, lebih tepatnya, bermain-main dengan kotoran sapi. Barangkali ini pengalaman aneh dan tak masuk akal. Tetapi, nampaknya ini pengalaman menarik sebab sebelumnya saya juga seorang pecundang, yang amat takut dan jijik dengan kotoran sapi. Aha, saya sedang bercanda di sini, tentu setiap orang yang jijik dengan kotoran sapi adalah wajar, dan lumrah. Betapa sederhananya kalau ukuran menjadi satria dan pencundang hanya pada masalah kotoran sapi.
Ini adalah hari ketiga saya tinggal di tempat Kursus Pertanian “Taman Tani” (KPTT). Agenda hari ini adalah bertugas di lahan sayuran. Seperti peserta kursus dan karyawan lain, pagi itu pukul 07.00, saya sudah bersiap menuju tempat bekerja. Pak Bowo, nama pendamping di lahan pertanian sayuran. Bersama seorang teman, saya menghadap Pak Bowo. Beliau lalu menjelaskan rencana kerja pagi itu.
Hal pertama yang diinstruksikan kepada saya pagi itu adalah memasang perangkap untuk hama. Sambil menjelaskan tentang hama, dan pestisida organik, Pak Bowo memasang perangkap hama itu. Perangkap hama itu sederhana sebenarnya. Perangkap hama itu dibuat dari seng yang dicat dengan warna mencolok lalu diberi oli. Serangga-serangga kecil, biasanya tertarik dengan warna mencolok. Maka, mereka akan terperangkap di tempat itu. Perangkap lainnya, misalnya botol Mizone yang juga diberi oli. Tentu ada perangkap hama yang lebih rumit. Tetapi, tak akan saya jelaskan pada lembar ini.
Selesai mengerjakan perangkap hama, pak Bowo sudah pindah tempat. Ia di lahan baru rupanya. Dan, dari tempat saya berdiri, saya lihat Pak Bowo mulai sedang mencangkul. Saya pun menebak: agenda berikutnya adalah mencangkul. Saya tersenyum dalam hati. Pekerjaan yang menantang, saya pikir. Benar juga yang saya pikirkan. Pak Bowo menjelaskan bahwa pekerjaan selanjutnya adalah menyiapkan lahan. Kata “menyiapkan lahan” di sini adalah bentuk ilmiah atau ameliorasi dari aktivitas “mencangkul”. Bentuk ini serupa ketika saya mengucapkan saya berasal dari keluarga sederhana. Lebih baik bukan nadanya, daripada saya katakan saya berasal dari keluarga miskin. Nah, kembali pada aktivitas mencangkul tadi, maaf, maksud saya menyiapkan lahan, pertama-tama saya mendengarkan penjelasan Pak Bowo. Pak bowo sekaligus menjelaskan dan mempraktekkan menyiapkan lahan yang efektif. Kemudian, cangkul itu pun berpindah ke tangan saya. Inilah saatnya mengerjakan pekerjaan yang menantang itu.
Harus saya katakan pula di sini, sebagai anak tani, saya pun belum pernah mencangkul. Sekali lagi, saya meninggalkan kampung sejak SMP. Dan, untuk usia di bawah SMP dalam kampung saja, belum dipercaya untuk mencangkul, malah sebaliknya hanya merepotkan, ngrusuhi. Maka, cukup beralasan kalau saya belum pernah mencangkul. Kalau begitu, bisa dibayangkan bagamana nasib cangkul di tangan saya itu dan tanah yang akan saya buat sebagai lahan baru. Awalnya memang tak mudah untuk membuat cangkul itu nyaman di tangan saya. Tetapi, lama-lama, capek juga. Bingung juga saya dibuatnya. Tak membutuhkan waktu yang lama, cangkul itu memberi kenang-kenangan pada telapak tangan saya. Cukup beberapa menit, telapak tangan saya pun kapalen.
Memang benar ini pekerjaan yang amat menantang bagi saya. Udara panas, sinar matahari langsung dan tanah yang tak gembur yang dihadapi. Keringat di tubuh saya pun mengalir deras. Begitu beratnya pekerjaan ini, sampai-sampai saya menggunakan rumus menyiapkan lahan yang paling sederhana. Rumus menyiapkan lahan yang paling sederhana adalah rumus menyiapkan lahan yang paling amatir. Inilah bentuk mencangkul bagi pemula. Konon, rumus ini ditemukan oleh seorang teman yang juga kewalahan dengan pekerjaan mencangkul yang pertama kali dilalui. Rumusnya begini setiap hitungan kelima dalam cangkulan berhenti sejenak mengambil nafas, kemudian melanjutkan mencangkul. Begitulah seterusnya.
Rasanya amat melelahnya, hingga pukul 11.30, pekerjaan membuat satu bedengan itu belum selesai. Seorang karyawan yang lebih muda dari saya seolah menyindir telah menyelesaikan bedengannya. Padahal saya memulai pekerjaan itu lebih dulu. Nampak-nampaknya kebiasaan amat mempengaruhi hasil kerja juga. Sambil istirahat, saya berharap akan segera ganti pekerjaan selepas makan siang nanti.
O ya, saudara, kepada Anda saya menjanjikan sebuah cerita tentang permainan saya dengan kotoran sapi tetapi hingga sekarang saya belum menyinggungnya. Baiklah, akan saya ceritakan sekarang. Alhasil, setelah makan siang, kami berganti aktivitas, yaitu menyirami cabai. Pekerjaan mencangkul sementara ditangguhkan dulu, dilanjutkan hari berikutnya. Memang hari berikutnya, saya tetap mencangkul tapi bedengan itu tak selesai. Seorang temanlah yang akhirnya menyelesaikan. Beberapa hari berikutnya, saya mendapat giliran lagi membantu di kebun sayuran. Kata Pak Bowo, aktivitas di kebun sayur adalah meneruskan menyiapkan lahan. Setelah melewati pengolahan tanah, pembedengan, aktivitas berikutnya adalah memberi pupuk dasar. Inilah cerita yang sebenarnya akan dimulai, yaitu perjumpaan saya dengan kotoran sapi itu.
Pada tahap ini pupuk dasar yang diberikan adalah pupuk kandang, pupuk kompos dan pupuk hijau. Kapur juga diberikan untuk mengatur keasaman tanah sesuai yang dibutuhkan. Setelah mengangkuti kompos, kami menaburi kapur. Tiba-tiba, Pak Bowo menyiapkan beberapa gembor dan ember. Lalu, ia memberikan pengantar, bahwa lahan itu mesti diberi pupuk hewan kotoran sapi supaya hasilnya maksimal. Memang sebelah lahan itu ada kolam tempat pembuangan gas dengan bahan bakar kotoran sapi. Jadi, di bak atau kolam itu penuh dengan kotoran sapi dengan bentuk cair dan bau yang menyengat. Tugas kami adalah mengambili kotoran sapi yang encer itu dengan gembor atau ember, lalu menyiramkannya pada lahan.
Awalnya, saya benar-benar jijik. Benar-benar hati-hati saya melakukannya. Dengan berbagai cara saya mencoba supaya jangan sampai kotoran sapi itu mengenai anggota badan saya. Berkali-kali, Pak Bowo, mengingatkan sambil bercanda, supaya tidak melihat itu sebagai kotoran. “Dibayangkan yang lain saja, frater!”. Atau, mengatakan motivasi yang begini, “Inilah pesta yang sebenarnya!” Jujur, saya mual. Baunya itu yang ga ketulungan. Tetapi, saya jaim (jaga image) seolah-olah tak ada apa-apa. Saking hati-hatinya. Kotoran sapi itu tiba-tiba mengenai celana saya. Waduh, waduh... Tak selang lama, akhirnya ia mengenai kaki saya, tangan saya. Seorang teman sengaja menyiramkan agak sembarangan mengenai juga ke saya. Bahkan, cairan yang dibawa teman saya itu muncrat dari ember mengenai wajahnya. Jadinya, tak ada lagi ketakutan, tak ada lagi rasa jijik, dan tak ada lagi keengganan. Yang ada adalah gelak tawa dan cekikikan kami. Kami pun berkejar-kejaran. Kami seolah lupa bahwa ada bersama kami kotoran yang dahsyat. Kami juga hampir lupa bahwa kami tak lagi anak-anak. Benar-benar pengalaman yang mengasyikkan.
Melihat pengalaman itu, hingga sekarang saya masih geli mengingatnya. Kotoran sapi memang bentuknya tak karuan, baunya tak ketulungan. Oleh orang kebanyakan, ia dihindari dan dijauhi. Berbeda bagi petani. Ia adalah pupuk. Ia amat berguna bagi petani. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, kotoran sapi itu mesti ada. Maka, petani rela kotor. Seorang petani rela gupak atau reget. Semuanya itu dilakukan agar mendapatkan hasil yang baik. Lalu, apa refleksinya? Berani kotor haruslah diartikan lebih dalam. Berani kotor adalah simbol totalitas. Dalam hidup ini, tak akan ada yang membahagiakan kalau hanya setengah-tengah. Semua harus sampai berani kotor. Totalitas dalam berkarya, bekerja adalah keutamaan. Hidup ini harus dihadapi dengan wani gupak, bahkan hingga wani nggetih.
Berani kotor adalah resiko. Setiap orang yang mempunyai kesungguhan hati berani masuk ke dalam perjuangannya. Apapun resikonya: gupak, kotor dan berdarah-darah. Kiranya tak berlebihan kalau saya kutip ungkapan terkenal dari Alex Noble: “resiko itu penting. Tidak ada pertumbuhan inspirasi kalau kita hanya tinggal di dalam sesuatu yang aman dan nyaman.” (AS)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar