Pengantar
Siapakah Kirjito? Tokoh dari dunia manakah ia? Apakah ia seorang yang terkenal sehingga tulisan ini sengaja dibuat hanya untuk melihat lebih dalam tentang dirinya. Apalagi, membaca cara ber-teologinya. Bukankah hal ini hanyalah tindakan yang sia-sia? Apakah ia setara dengan Tom Jacobs? Atau, Groenen? Atau, teolog-teolog lain yang terkenal di Indonesia? Bukan, Kirjito hanyalah imam desa sederhana. Tepatnya, di lereng gunung Merapi. Romo Kirjito begitu sapaannya hanyalah imam biasa. Tetapi, barangkali sepak terjangnya membumikan Gereja di kawasan pedesaan Lereng Merapi, nampaknya perlu dikaji.
Pertama-tama, perlu disadari bahwa Romo Kirjito tak hanya berdiri sebagai seorang pribadi “Kirjito”. Ia adalah “wakil” gereja. Dan, gerakannya dalam membawa Gereja berbaur dengan budaya dan situasi setempat mengundang pertanyaan tersendiri. Sebenarnya, teologi macam apakah yang ia usung dalam berkarya? Atau, lebih tegas, metodologi macam apakah yang ia pakai dalam pendekatannya dengan Gereja setempat. Rasanya, untuk sedikit mengupas itulah artikel ini sengaja dibuat.
Tentang Romo Kirjito
Tahun ini Romo Kirjito mendapat anugerah bergengsi, Maarif Awards. Ia diakui publik sebagai seorang pejuang kemanusiaan dan nilai-nilai kehidupan. Ia sendiri menginjakkan kaki di Lereng merapi untuk mengawali karya pastoralnya di Paroki Sumber pada tahun 2000. Sebagian besar umat yang dihadapi adalah petani. Dan, paroki Sumber juga dikenal sebagai tempat hidup para seniman. Hampir setiap desa memiliki kelompok kesenian sendiri. Nah, nantinya Romo Kirjito mampu memakai keunggulan ini untuk sarana pastoralnya.
Sebelum berkarya di Paroki Sumber, Romo Kirjito banyak berkecimpung juga dalam karya pertanian. Ia sangat intens terlibat dengan pengembangan petani[1]. Maka, pertama-tama, waktu ia masuk di paroki Sumber, perkumpulan petani, yaitu “Tani Lestari Sumber” mendapat perhatiannya.
Setelah membaca situasi, Romo Kirjito berani menyimpulkan bahwa ada empat tantangan besar yang dihadapi oleh umat Sumber[2]. Pertama, tentang budaya hidup bersama di tengah kalangan yang beragam (agama, mata pencaharian, keyakinan politik, status, sekat-sekat sosial yang lain). Kedua, adalah soal lingkungan hidup dan ekologi yang mendapat ancaman dari pengusaha-pengusaha dari luar daerah yang rakus mengeksploitasi[3]. Ketiga, berkaitan dengan masalah pertanian: bagaimana membuat para petani di daerah itu tak tergantung dengan obat-obatan kimia yang malah berefek negatif pada tanah. Keempat, adalah masalah pendidikan dalam arti yang luas: bagaimana membuat masyarakat menjadi sadar lalu menjadi kritis dan berdaya.
Langkah pertama yang dibuat Mbah Kir, sebutan akrab, Romo Kirjito adalah gerakan penyadaran bahwa Allah hadir dalam diri alam dan dalam diri semua orang[4]. Maka, Romo Kirjito selalu mengajak masyarakat untuk menghargai alam dan sesama. Maka, fokus pastoral yang berkembang adalah bersahabat dengan alam. Gerakan-gerakan yang selanjutnya amat populer sebagai bukti pastoral yang bersahabat dengan alam antara lain: Gelar Budaya Merapi[5], Gerakan Masyarakat Cinta Air (GMCA)[6], ekaristi alam dan budaya, pendampingan kaum muda (Live-in dan Outbound).
Perjuangan melawan perusakan lingkungan ini tidak mudah. Konon, begitu banyak ‘bego’ yang mengeruk pasir di area persawahan, yang mau tak mau merusak lingkungan hidup ini, Romo Kirjito langsung geram. Ia mulai memimpin demonstrasi, mengirim tulisan di media massa, dan mengutus tokoh masyarakat untuk bertemu dengan pemerintah. Tapi, hasilnya pun tidak serta merta dapat dirasakan. Pihak-pihak yang kontra pun mulai berdatangan dan memojokkan. Justru seni dan budaya yang menjadikan perlawanan makin memanas[7]. GBM menjadi simbol perlawanan yang kuat.
GBM menjadi awal umat Paroki Sumber memasukkan simbol-simbol budaya lokal dalam liturgi yang akhirnya mampu mengkritisi perusakan alam persis amat sesuai dengan konteks setempat. Liturgi yang biasanya terfokus di seputar altar, kini mengikuti jalan-jalan setapak dan area persawahan. Bahkan, Romo Kir sendiri waktu mempimpin sakramen pernikahkan anak seniman itu, mengenakan kostum anoman sebagai simbol seorang brahmana yang kekal yang ada dalam kisah mahabarata dan Ramayana, kendati dalam wujud kera. Sebuah liturgi perkawinan yang tak umum dan mengundang caci maki[8].
Upaya yang mati-matian diperjuangkan itu mulai ada hasilnya. Media mulai melirik dan mengikuti terus gerakan budaya itu, seperti media yang tak habis-habisnya menyorot erupsi Merapi yang bersiklus 5 tahunan itu. Orang mulai sadar dengan perusakan lingkungan yang benar-benar mengancam. Gubenur Jawa Tengah dan para Bupati se-Jawa Tengah yang berkumpul di Merapi pada tanggal 14 Desember 2004 pun sampai membuat pernyataan sikap[9]. Pernyataan itu berbunyi: “Demi jelasnya, kami menolak dengan tegas kegiatan-kegiatan mengeksploitir kekayaan alam Merapi yang berwatak rakus, menguntungkan sekelompok kecil tetapi menganggu bahkan merugikan lebih banyak warga dan makhluk lain di lereng Merapi serta bertentangan dengan norma-norma, etika lingkungan masyarakat yang sejak dahulu dihidupi warga lereng Merapi dan terutama yang melanggar ketentuan hukum yang berlaku.”
Metodologi Teologi Romo Kirjito
Bagaimana memahami metodologi teologi yang digunakan oleh Romo Kirjito? Menurut Romo Kirjito sendiri Gereja mesti hadir dan bergaul dengan masyarakat agraris pegunungan Merapi-Merbabu-Sumbing-Menoreh. Pertama-tama hadir untuk memihak petani bukan sebagai “raja” yang menuntut upeti berbasis komoditas pertanian[10]. Maka, ia memperjuangkan petani yang waktu itu terancam karena kerusakan lingkungan juga krisis air dengan dialog budaya yang ada. Ia menggunakan budaya dan kesenian sebagai pendekatan pastoralnya.
Tentang pastoralnya itu, Romo Kirjito tak banyak berbicara teoritis. Ia hanya mengatakan bahwa ia meniru metode Romo Mangun, yaitu pendekatan eksploratisi-kreasi-integrasi[11]. Tentu gaya tafsir bebas Romo Kir yang mewarnai. Beliau menandaskan bahwa selama ini bukan sekadar mengetrapkan teori abstak untuk daerah lereng Merapi. Tetapi, yang terjadi adalah proses mencari dan mencari pemikiran berdasar realitas lokal (eksplorasi) lalu mencoba melakukan dalam skala kecil (kreasi) dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi (integrasi).
Tetapi, paling tidak Romo Kirjito mampu dengan jeli permasalahan dan tantangan umat beriman di paroki Sumber. Iman umat yang menghadapi aneka tantangan (perusakan alam, hidup dalam budaya hidup yang beragam, kentalnya kesenian) menjadi titik tolak refleksi. Bukankah ini sesuai dengan Kieser yang mengatakan bahwa pertanyaan iman adalah pertanyaan mengenai Allah yang mewahyukan diri dan dihadapi manusia dalam kehidupan sehari-hari[12].
Kieser menjelaskan bahwa untuk sampai pada refleksi teologis-pastoral, sebuah pengalaman harus diolah melalui tiga tahap[13]. Pertama, harus ditemukan tantangan hidup sebagai pertanyaan dasar atas iman. Kedua, tantangan itu harus mendapat jawaban otentik manusia dalam kemerdekaan di hadapan Allah. Ketiga, jawaban serta konteks itu direfleksikan dalam tradisi murid-murid Kristus. Persis itulah yang ditangkap oleh Romo Kirjito yang membangun Gereja berdasar bangunan iman dan harapan umat dengan konteks setempat. Gereja berdasar lokalitas itulah yang ditekankan oleh Romo Kirjito. Bukan semata-mata teologi yang abstrak dan mengawang, tetapi teologi yang sungguh-sungguh menyapa umat dengan dimensi kemanusiaan dan konteks setempat.
Purwatma dalam tulisannya, “Dialog dengan Kebudayaan sebagai Salah Satu Proses Pembentukan Gereja Setempat, Refleksi atas Upaya Inkulturasi Umat Gubug Selo Merapi, Paroki Sumber” menyoroti cara berteologi Romo Kirjito dengan amat menarik[14]. Di lereng Merapi, Allah ditampilkan benar-benar yang menyapa manusia, sungguh tak berjarak. Hal ini bukan semata-mata bisa dilihat cara berliturginya, tetapi pernyataan dan perjuangan Gereja nyata-nyata seirama dengan tantangan hidup dalam hidup harian umat. Mengutip amanat Sidang para uskup Asia, Purwatma menjelaskan bahwa Gereja dengan dimensi lokalitasnya itu mampu sungguh berbakti kepada masyarakat. Jelasnya, Gereja mampu berbicara memenuhi tuntutan-tuntutan Injil: masyarakat yang ‘berdasarkan kebenaran, berpedoman keadilan, bermotivasi cinta kasih, diwujudkan dalam kebebasan, dan berkembang dalam damai’.
Rahner Membaca Kirjito
Seandainya Rahner masih hidup, barangkali ia akan tersenyum melihat karya Romo Kirjito. Ia pun akan sangat apresiasif sekali dengan cara ber-teologi yang didaratkan oleh Romo Kirjito. Dalam bukunya “Theology of Pastoral Action”, Rahner menekankan bahwa Gereja mestinya berbicara tentang Allah dan kisah penyelamatannya[15]. Tuhan yang telah memberikan dirinya itulah yang mesti dikisahkan. Dan, Gereja pertama-tama mesti dinampakkan dalam kebenaran dan cinta. Tentu saja, aspek lokalitas atau desentralisasi gereja amat ditekankan di sini. Artinya, Gereja berbicara tentang Allah yang menyelamatkan itu sesuai dengan konteks hidup umat beriman. Nah, itulah kiranya yang telah dibuat oleh Romo Kirjito di lereng Merapi. Setelah menangkap dengan jelas, permasalahan hidup umat beriman di sana, ia membuat banyak hal demi mengaktualkan Allah yang yang adalah kasih dan kebenaran (lewat liturgi, gelar budaya dan gerakan-gerakan lainya).
Selanjutnya, dalam bukunya, “Theoligical Investigations”, Rahner menegaskan bahwa Kristus mesti dihadirkan dalam terang keselamatan[16]. Dimensi soteriologis ini mau tak mau mesti harus sampai pada kisah penebusan. Dan, sekali lagi keselamatan ini sekali lagi harus menyapa seluruh keadaan manusia. Dari pengalaman manusia ini ditariklah hubungan kepada Allah. Inilah yang disebut teologi transendental. Memulai dari pengalaman kategorial manusia lalu menuju pengalaman akan Allah. Dan, begitu pergulatan yang dialami oleh Romo Kirjito bersama umatnya. Proses berimannya melewati tahap-tahap demikian. Melihat kerusakan alam di awal karyanya, ia langsung menegaskan bahwa Allah hadir dalam diri alam dan sesama.
Dan, berkaitan dengan pendekatan seni budaya dalam teologi, Rahner mempunyai pendapat yang menarik. Dalam tulisannya, “Theology and Art”, dalam majalah Thought, Rahner mengungkapkan bahwa seharusnya pengalaman iman mesti diungkapkan dengan bahasa manusia[17]. Bahasa dengan Allah mestinya mampu menampung pengalaman keseharian manusia. Seni adalah kata kunci utama di sini. Ia menekankan ekspresi manusia dalam seni: musik, patung, drama, lukisan, verbal-non verbal. Ekspresi manusia itu menandakan kerinduan manusia kepada Allah. Kalau toh liturgi yang diusung di Sumber tak hanya berkisar di altar, tapi sampai pada jalan setapak area persawahan, juga kalau toh “anoman” menerima janji perkawinan, mestinya ditempatkan di sini. Inilah yang disebut teologi antropologi. Allah yang hadir dalam keseluruhan dimensi hidup manusia yang penuh dengan dunia simbol.
Penutup: Mencari Teologi yang kontekstual
Rasanya terlalu berlebihan kalau mencurigai bahwa teologi yang diusung oleh Romo Kirjito berbahaya. Kritikan bernada nyinyir akan mengatakan: Kristus hanya berwujud Nabi, tokoh pembebas atau biasa disebut Yesus politik. Bukankah teologi pembebasan mendapat teguran dari Vatikan. Telaah lebih dalam dan pandangan Rahner di atas rasanya mampu menjadi jawaban tentang cara berteologi Romo Kirjito, menyangkut di dalamnya tentang Kristologi yang terkandung.
Akhirnya, cara berteologi seperti apakah yang kontekstual yang bisa diterapkan di Indonesia? Rasanya tak ada hal yang baru sebagai jawaban. Namun, barangkali dari uraian panjang lebar di atas, toh ada yang bisa diambil. Nampak-nampaknya gambaran Allah yang tidak menutup mata, bergaul akrab dengan pergulatan hidup manusia itulah yang mesti diwartakan. Maka, cara berteologi yang menyapa manusia itulah yang dibutuhkan di Indonesia. Mau tak mau, hal ini hanya bisa dimulai dari bawah. Dalam bahasa Purwatma, Gereja mesti bisa berdialog dengan situasi zaman yang dihadapi. Kalau di Indonesia, dialog itu berhadapan dengan kemiskinan, budaya, lintas iman dan seterusnya. Kalau demikian, Gereja akan signifikan dengan pergulatan iman umatnya dan peduli dengan gerak masyarakat pada umumnya. Kalau toh Keuskupan Agung Jakarta sempat mendengung-dengungkan tentang “Mengolah Sampah” dan Kesukupan Agung Semarang mempopulerkan gerakan “Syukur dengan Berbagi Berkat”, itu adalah hasil dialog dengan situasi setempat. Dan, di situlah Allah benar-benar menyapa manusia.
Daftar Pustaka
Banu Kurnianto, Simbol dan Dunia Simbol, dalam “Metode Pastoral yang Mengembangkan inkulturasi”, Buku Panduan Temu Unio Frater Projo 2009 di Paroki Sumber, 22-27 Juli 2009.
Edy Wiyanto, Paroki Sumber: Mencari dan Menemu, dalam “Metode Pastoral yang Mengembangkan inkulturasi”, Buku Panduan Temu Unio Frater Projo 2009 di Paroki Sumber, 22-27 Juli 2009.
Kieser, Tanpa Takut Beriman dengan Jujur, Fakultas Teologi Universitas Sanata Darma Yogyakarta 2004-2005.
Kirjito, V, Edukasi Iman/Religiusitas Berbasis Alam dan Budaya Gubug Selo Merapi – Paroki St. Maria Lourdes Sumber, dalam “Metode Pastoral yang Mengembangkan inkulturasi”, Buku Panduan Temu Unio Frater Projo 2009 di Paroki Sumber, 22-27 Juli 2009.
-----------, Sambutan Romo Paroki Sumber, dalam “Metode Pastoral yang Mengembangkan inkulturasi”, Buku Panduan Temu Unio Frater Projo 2009 di Paroki Sumber, 22-27 Juli 2009
Nugroho Tri Sumartono, Gelar Budaya Merapi (skripsi), Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma, 2006.
PRABA, Sesuatu yang baik bukan hanya untuk orang katolik, PRABA, No. 11–LII–Juni–I –2002.
Redaksi Salus, Potret Paroki Sumber. SALUS. Edisi Oktober-Desember 2001.
Rahner, K., Thelogy of Pastoral Action, Herder and Herder, Newyork, 1968.
------------., Theological Investigations vol. I, Darton, Longman & Todd LTD, London, 1961.
------------., Theology and The Arts, dalam “Thought”, Vol. 65, No. 258, 1990.
[1] Dalam suatu bincang-bincang informal dengan penulis, Romo Kirjito mengatakan bahwa sebagian besar penduduk adalah petani. Dia juga tak lupa bahwa ia pun juga berasal dari keluarga petani. Maka, memperjuangkan petani adalah sebuah keharusan.
[2] Untuk membaca sharing Romo Kirjito ini bisa dibaca dalam “Sesuatu yang baik bukan hanya untuk orang katolik”. PRABA. No. 11 – LII – Juni – I – 2002.
[3] Romo Kir menyebut mereka sebagai kapitalis-kapitalis kota Jakarta, Semarang, Solo, Surabaya yang mengeruk pasir Merapi atau biasa disebut “emas hitam”. Hal ini bisa dibaca dalam sambutan Romo Kirjito dalam “Metode Pastoral yang Mengembangkan inkulturasi”, Buku Panduan Temu Unio Frater Projo 2009 di Paroki Sumber, 22-27 Juli 2009.
[4] Potret Paroki Sumber. SALUS. Edisi Oktober-Desember 2001.
[5] Awalnya anak seniman padepokan Cipto Budaya Tutup Ngisor mau menerima sakramen pernikahan anaknya. Romo Kirjito lalu mempunyai ide nakal untuk membuat pernikahan putra seniman ini meriah, dimeriahkan semua kelompok seniman di lereng gunung Merapi. Maka, jadilah Gelar Budaya Merapi (GBM). Mgr Suharyo pun datang untuk menerimakan sakramen krisma disambut dengan GBM yang kedua. Lalu, GBM selanjutnya menjadi tanda perlawanan terhadap perusakan Lingkungan. Metode Pastoral yang Mengembangkan inkulturasi, Buku Panduan Temu Unio Frater Projo 2009 di Paroki Sumber, 22-27 Juli 2009, 44-45.
[6] GMCA terbentuk pada tahun 2003. Latar belakangnya petani Sumber mulai merasakan krisis air padahal tahun-tahun 90-an, Sumber mengalami kelimpahan air. Proyek penambangan pasir yang gila-gilaan itulah penyebabnya. Maka, Romo Kirjito mengajak panitia Paskah 2003 paroki Sumber untuk merefleksikan hal itu. Tindak lanjutnya, pas hari Pentakosta, bersama umat, Romo Kirjito memwacanakan memproklamasikan GMCA. Air paling dibutuhkan oleh petani seperti Roh Kudus yang menghidupkan. Bersamaan dengan itu, mulai digiatkan ekaristi alam, dan Live-in juga outbound untuk kaum muda agar menghargai alam dan budaya lokal. Metode Pastoral yang Mengembangkan inkulturasi, Buku Panduan Temu Unio Frater Projo 2009 di Paroki Sumber, 22-27 Juli 2009, 45-48.
[7]Banu Kurnianto, Simbol dan Dunia Simbol, Buku Panduan Temu Unio Frater Projo 2009 di Paroki Sumber, 22-27 Juli 2009, 72-75.
[8] Dalam sebuah wawancara pribadi Edi Wiyanto dengan petani Sumber ditemukan hal yang menarik lagi berkaitan dengan liturgi. Pak Sibang, petani sumber itu mengatakan, “Kalau madah bakti adalah nyanyian Indonesia, Gregorian nyanyian Roma. Dari Tangkil (Sumber) ini mempunyai bahasa sendiri yang sesuai dengan lingkungan di sini. Apakah kalau kita mempunyai adat kebiasaan sendiri itu salah?” Romo Kirjito, menurut pak Sibang amat mendukung kreasi liturgi yang sungguh-sungguh bisa dirasakan oleh umat. Edy Wiyanto, Paroki Sumber: Mencari dan Menemu, Buku Panduan Temu Unio Frater Projo 2009 di Paroki Sumber, 22-27 Juli 2009, 65-71.
[9] Edy Wiyanto, Paroki Sumber: Mencari dan Menemu, Buku Panduan Temu Unio Frater Projo 2009 di Paroki Sumber, 22-27 Juli 2009, 68.
[10] V. Kirjito, Edukasi Iman/Religiusitas Berbasis Alam dan Budaya Gubug Selo Merapi – Paroki St. Maria Lourdes Sumber, Buku Panduan Temu Unio Frater Projo 2009 di Paroki Sumber, 22-27 Juli 2009, hal 77-85.
[11] V. Kirjito, Sambutan Romo Paroki Sumber, Buku Panduan Temu Unio Frater Projo 2009 di Paroki Sumber, 22-27 Juli 2009, 13-15.
[12] Nugroho Tri Sumartono, Gelar Budaya Merapi (skripsi), Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma, 2006, 71-72.
[13] Kieser, Tanpa Takut Beriman dengan Jujur, Fakultas Teologi Universitas Sanata Darma Yogyakarta 2004-2005, 2.
[14] Artikel ini dapat dibaca dalam Buku Panduan Temu Unio Frater Projo 2009 di Paroki Sumber, 22-27 Juli 2009, 50-56.
[15] Rahner, Thelogy of Pastoral Action, 29-42.
[16] Rahner, Theological Investigations vol. I, 150-200.
[17] Rahner, Theology and The Arts, dalam “Thought”, 385-399.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar